Bab 1 Pendidikan Agana Islam
Membuka Relung Hati
Beragam cara ditempuh oleh manusia
untuk mendekatkan diri kepada Sang
Pencipta yaitu Allah Swt. Cara tersebut
ada yang melalui jalan merenung atau
ber-tafakkur atau berżikir. Ada pula
seseorang menjadi dekat dengan Allah
Swt. yang disebabkan oleh musibah
yang menimpanya. Demikianlah Allah
Swt. membuka cara atau jalan bagi
manusia yang ingin dekat dengan-Nya.
Sebagai orang yang beriman, tentu saja
kita harus mampu menempuh cara apa
pun agar dekat dengan Allah Swt.
Kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya tentu saja akan mengantarkannya
mendapatkan berbagai fasilitas hidup, yaitu kesenangan dan kenikmatan yang tiada
tara. Bukankah seorang anak yang dekat dengan orang tuanya atau seorang pegawai
bawahan dengan bosnya akan memberikan peluang atas segala kemudahan yang
akan dicapainya.
Jalan lain utuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. adalah melalui żikir. Żikir artinya
mengingat Allah Swt. dengan menyebut dan memuji nama-Nya. Syarat yang sangat
fundamental yang diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui
żikir adalah kemampuan dalam menguasai nafsu. Selanjutnya menyebut nama
Allah Swt. (al-Asmā’u al-¦usnā) berulang-ulang di dalam hati dengan menghadirkan
rasa rendah hati (tawa««u’) yang disertai rasa takut karena merasakan keagunganNya. Żikir dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Berżikir pun tidak perlu
menghitung berapa jumlah bilangan yang harus diżikirkan, yang penting adalah żikir
harus benar-benar menghujam di dalam kalbu.
Selain melalui żikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt. dapat pula dilakukan
melalui perbuatan atau amaliah sehari-hari, yaitu dengan selalu meniatkan bahwa
yang kita lakukan adalah semata-mata hanya karena taat mematuhi aturan mainNya. Misalnya, kita berbuat baik kepada tetangga bukan karena ia baik kepada
kita, tetapi semata-mata karena Allah Swt. menyuruh kita untuk berbuat demikian.
Kita bersedekah bukan karena kasihan, tetapi semata-mata karena Allah Swt.
memerintahkan kita untuk mengeluarkan sedekah membantu meringankan beban
orang yang sedang dalam kesulitan. Hal ini mestinya dapat kita lakukan karena
bukankah pada waktu kecil dulu kita mampu patuh melaksanakan perintah dan
nasihat orang tua? Mengapa sekarang kita tidak sanggup patuh pada perintahperintah Allah Swt? Jika śalat dapat kita kerjakan karena semata-mata taat mematuhi
perintah Allah Swt., rasanya mustahil bila kita tidak dapat bersikap demikian pada
perbuatan-perbuatan lainnya!
Mengkritisi Sekitar Kita
Manusia adalah makhluk yang sering lupa dan sering berbuat kesalahan. “AlIns±nu ma¥allul kha¯ā wa an-nisyan.” Demikian bunyi sebuah hadis yang artinya,
“manusia itu tempatnya salah dan lupa.” Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw.
bersabda, “Kullu Ban³ ²dama kha¯±un wa khairul kha¯± at-t±ibµna.” (Setiap
keturunan Adam as. pasti melakukan kesalahan, dan orang yang baik adalah yang
kembali dari kesalahan/dosa).
Berdasarkan kedua hadis tersebut, manusia memiliki sifat dan karakter yang
sering berbuat kesalahan dan lupa. Artinya, tidak ada seorang pun yang terbebas
dari kesalahan dan lupa. Namun demikian, tidaklah benar jika dikatakan bahwa
tidak mengapa seseorang melakukan kesalahan dengan dalih bahwa hal tersebut
merupakan sifat manusia.
Sebagai seorang yang beriman, kita dituntut untuk selalu melakukan refleksi
dan perenungan terhadap apa yang telah kita perbuat. Ketika seseorang terlanjur
melakukan kesalahan, bersegeralah ia untuk kembali ke jalan yang benar dengan
bertaubat dan tidak mengulanginya lagi. Demikian pula sifat lupa, ia kadang menjadi
sebuah nikmat dan juga bencana. Lupa bisa menjadi nikmat manakala seseorang
terlupa dengan kejadian sedih yang pernah menimpanya. Dapat dibayangkan,
betapa sengsaranya jika seseorang tidak dapat melupakan kisah sedih yang pernah
dialaminya! Lupa juga dapat menjadi bencana, yaitu ketika dengan lupa tersebut
mengakibatkan kecerobohan dan kerusakan. Banyak di antara manusia karena lupa
melakukan sesuatu mengakibatkan ia melakukan kesalahan yang dapat merugikan
dirinya dan orang lain.
Memperkaya Khazanah Peserta Didik
A. Memahami Makna al-Asmā’u al-¦usnā: al-Kar³m, al-Mu’m³n, al-Wak³l, alMat³n, al-Jāmi’, al-‘Adl, dan al-Ākhir.
1. Pengertian al-Asmā’u al-¦usnā
Al-Asmā’u al-¦usnā terdiri atas dua kata,
yaitu asmā yang berarti namanama, dan ¥usna yang berarti baik atau indah. Jadi, al-Asmā’u al-¦usnā dapat
diartikan sebagai nama-nama yang baik lagi indah yang hanya dimiliki oleh
Allah Swt. sebagai bukti keagungan-Nya. Kata al-Asmā’u al-¦usnā diambil
dari ayat al-Qur’ān Q.S. °āhā/20:8. yang artinya, “Allah Swt. tidak ada Tuhan
melainkan Dia. Dia memiliki al-Asmā’u al-¦usnā (nama-nama baik)“.
2. Dalil tentang al-Asmā’u al-¦usnā
a. Firman Allah Swt. dalam Q.S. al-A’rāf/7:18
Artinya: “Dan Allah Swt. memiliki asmā’ul husna, maka bermohonlah
kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama-Nya yang baik itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) namanama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang
mereka kerjakan.” (Q.S. al A’rāf/7:180)
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa al-Asmā’u al-¦usnā merupakan
amalan yang bermanfaat dan mempunyai nilai yang tak terhingga tingginya.
Berdoa dengan menyebut al-Asmā’u al-¦usnā sangat dianjurkan menurut
ayat tersebut.
b. Hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw.
bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mempunyai sembilan puluh sembilan
nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya, maka ia
akan masuk surga”. (H.R. Bukhari)
B. Memahami makna al-Asmā’u al-Husnā: al-Karim, al-Mu’min, al-Wakil, alMatin, al-Jāmi’, al-‘Adl, dan al-Ākhir. Mari pelajari dan pahami satu-persatu asmā’ul husna tersebut!
1. Al-Karim
Secara bahasa, al-Karim
mempunyai arti Yang Mahamulia,
Yang Maha Dermawan atau Yang
Maha Pemurah. Secara istilah,
al-Kar³m diartikan bahwa Allah
Swt. Yang Mahamulia lagi Maha
Pemurah yang memberi anugerah
atau rezeki kepada semua makhlukNya. Dapat pula dimaknai sebagai
Zat yang sangat banyak memiliki
kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi
Nikmat dan keutamaan, baik ketika
diminta maupun tidak. Hal tersebut
sesuai dengan firman-Nya:


Komentar
Posting Komentar